masalah Transmigrasi

Masalah transmigrasi

 

pada hakekatnja dapat dilihat dari dua  sudut penglihatan. Pertama dari sudut penglihatan masalah penjebaran penduduk dan kedua dari sudut penglihatan pemenuhan kebutuhan tenaga kerdja untuk pembangunan.

Dipandang dari segi masalah penjebaran penduduk maka tujuan transmigrasi adalah untuk mencapai pensebaran penduduk jang lebih seimbang dan lebih merata diseluruh wilajah Indonesia. Pan-   dangan ini membawa konsekwensi bahwa bagian jang tidak ketjil dari penduduk Djawa harus dapat dipindahkan kepulau-pulau lain yang dewasa ini kekurangan penduduk.

Dipandang dari sudut penglihatan kebutuhan tenaga kerdja maka transmigrasi adalah pemindahan tenaga kerdja untuk melaksanakan pembangunan berbagai projek-projek didaerah-daerah jang keku-    rangan tenaga kerdja. Tudjuan utama bukanlah untuk mentjapai penjebaran penduduk jang lebih seimbang dan lebih merata, melain-         kan untuk melaksanakan pembangunan projek-projek jang dipandang perlu untuk peningkatan produksi Nasional.

Pada dasarnja kedua sudut penglihatan tersebut tidak terpisah       satu sama lainnja. Dalam taraf Rentjana Pembangunan Lima Tahun      jang pertama ini maka transmigrasi harus dikaitkan dengan pem-bangunan projek-projek. Djumlah tenaga kerdja jang dibutuhkan  dan dengan demikian djumlah biaja jang diperlukan tergantung dari-         pada djumlah tenaga kerdja jang diperlukan untuk pembangunan  projek-projek jang memerlukan tenaga kerdja tersebut. Adapun pembangunan projek-projek tersebut bukanlah pertama-tama untuk menampung tenaga kerdja jang dipindahkan dari daerah lain melainkan untuk melaksanakan pembangunan guna peningkatan produksi Na-   sional. Dibangunnja projek-projek tersebut didaerah-daerah jang kebetulan kekurangan tenaga kerdja bukanlah pertama-tama untuk memindahkan tenaga kerdja melainkan karena tudjuan jang hendak ditjapai, jaitu peningkatan produksi Nasional dapat terwudjud sebaikbaiknja dengan pembangunan didaerah-daerah tersebut.

KEBIDJAKSANAAN DAN LANGKAH-LANGKAH

Dalam rangka pelaksanaan Rentjana Pembangunan Lima Tahun transmigrasi dikaitkan dengan usaha-usaha serta kegiatan pemba- ngunan dan tidak berdiri sendiri.      Dengan demikian      usaha transmi-

grasi adalah untuk menundjang kegiatan pembangunan didaerah- daerah dan projek-projek jang memerlukan tenaga kerdja.

Dengan pendekatan kegiatan transmigrasi dari sudut pengaitan dengan usaha serta kegiatan pembangunan jang setjara integral, maka kwantitas dan kwalitas transmigran akan sangat ditentukan oleh  kebutuhan usaha pembangunan diberbagai daerah tersebut. Berbagai kegiatan pembangunan-pembangunan jang memerlukan tenaga kerdja antara lain adalah untuk peningkatan produksi pangan dengan pem-   bukaan tanah baru jang terutama akan berbentuk pembukaan persawahan pasang-surut di Kalimantan dan Sumatera. Untuk peningkatan produksi dan ekspor kaju serta hasil hutan lainnja dimana akan     dibangun projek-projek kehutanan diberbagai daerah diluar Djawa, diperlukan tenaga kerdja transmigran baik jang sudah skilled maupun jang masih memerlukan latihan ketrampilan chusus dibidang produksi hutan. Selandjutnja untuk peningkatan produksi dan ekspor, dimana diperlukan rehabilitasi dari pembangunan prasarana diberbagai pulau diluar Djawa, diantaranja up-grading djalan, rehabilitasi pelabuhan, rehabilitasi lapangan terbang, pemasangan transmissi listrik dan lain sebagainja, diperlukan tenaga kerdja jang tidak sedikit djumlahnja dan jang harus dipindahkan dari daerah jang berkelebihan tenaga      kerdja. Demikian pula pengembangan usaha pertanian, perkebunan       dan perikanan memerlukan banjak sekali tenaga kerdja. Dengan sendirinja tenaga kerdja jang diperlukan untuk masing-masing bidang adalah berbeda-beda pensjaratannja. Bahkan untuk masing-masing    projek diperlukan tenaga kerdja jang berbeda pula ketjakapannja.       Oleh karena itu maka pengiriman transmigran untuk melaksanakan pembangunan dibidang-bidang serta projek-projek tersebut sudah seharusnja disesuaikan dengan kebutuhan bidang-bidang serta projekprojek tersebut.

Dalam hubungan ini maka didaerah-daerah jang djumlah tenaga kerdjanja relatif banjak diadakan persiapan-persiapan agar supaja transmigran-transmigran jang akan membantu pembangunan projek-        projek didaerah lain tersebut benar-benar memenuhi pensjaratan jang diminta.Untuk ini diperlukan latihan ketrampilan jang akan mendja-     min peningkatan produktivitas mereka ditempat pekerdjaannja jang   baru. Dengan demikian usaha transmigrasi benar-benar merupakan     suatu kegiatan jang langsung menundjang pelaksanaan pembangunan   jang telah direntjanakan diberbagai bidang.

Landasan baru dalam bidang transmigrasi ini akan terus dikembangkan berdasarkan pengalaman jang lampau serta kemungkinan      jang

akan datang. Sebagai aki.bat daripada luasnja persiapan-persiapan  dan kegiatan-kegiatan transmigrasi ini maka pembinaan operasionil  akan menjangkut kegiatan berbagai instansi dan masjarakat. Untuk  ini diperlukan persiapan-persiapan dan tjara kerdja jang serasi. Dengan demikian transmigrasi memegang peranan jang sangat penting sebagai        unsur penundjang pembangunan projek-projek jang telah diprioritaskan dalam Rentjana Pembangunan Lima Tahun.

Salah satu tujuan pembangunan kawasan transmigrasi adalah membangun pusat-pusat pertumbuhan baru yang dilakukan para transmigran yang berada di permukiman transmigrasi tersebut. Para transmigran tersebut merupakan pionir-pionir pembangunan.

Pembangunan kawasan transmigrasi pada umumnya dilakukan di wilayah-wilayah yang jauh (remote area) dan dilakukan untuk dapat lebih meningkatkan kegiatan-kegiatan usaha pertanian di wilayah tersebut.

Dalam melakukan kegiatan usaha pertanian dan usaha-usaha produktif, di samping juga untuk kehidupan sehari-hari seperti untuk memasak, para transmigran memerlukan energi.

Menurut Dirjen Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi (P2MKT), Depnakertrans, Djoko Sidiq Pramono, selama ini untuk memenuhi kebutuhan energi para transmigran dilakukan dengan memanfaatkan minyak tanah, kayu, dan sekam dari sisa panen hasil pertanian maupun dari generator.

“Pada umumnya kawasan transmigrasi itu belum terjangkau aliran listrik dari PLN. Sedangkan energi sangat dibutuhkan para transmigran. Kami kemudian melakukan solusi pemenuhan energi dengan memanfaatkan potensi lokal untuk sumber energi khususnya sumber-sumber energi terbarukan,” kata Djoko Sidiq Pramono.

Agar lebih hemat, efisien, dan ramah lingkungan, Ditjen P2MKT memanfaatkan potensi-potensi lokal untuk pembangkit energi. Seperti memanfaatkan aliran dan debit air untuk dapat memutar turbin sebagai pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH).

Memanfaatkan tenaga angin, tenaga surya, memanfaatkan bahan bakar nabati, minyak sawit, jarak pagar, minyak kelapa, minyak jagung serta bahan bakar gas dari kotoran ternak.

Adanya pemenuhan energi terbarukan untuk kegiatan rumah tangga dan kegiatan usaha ekonomi produktif, kawasan trasnmigrasi tersebut dengan cepat dapat terdorong menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Pembangunan dan pengembangan energi terbarukan di kawasan transmigrasi ini nantinya diharapkan akan mengurangi subsidi pemerintah untuk bahan bakar minyak. Di samping itu, wacana program desa mandiri energi (DME) bisa direalisasikan.

Pembangunan dan pengembangan energi terbarukan di kawasan transmigrasi khususnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) telah dilakukan pada 1997 dengan bantuan Perancis di kawasan transmigrasi Hialu, Sulawesi Tenggara, Salotiwo/Kalumpang dan Salopangkang, Sulawesi Barat, serta Muara Ancalong, Kalimantan Timur.

Pada 2008, pembangunan PLTS dilakukan di kawasan transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM) Mesuji, Lampung, jenis PJU, Hybrid 3000, SHS 200 dan SHS 50, KTM Belitang, Sumatera Selatan, jenis PJU, KTM Parit Rambutan, Sumatera Selatan jenis PJU, KTM Tobadak, Sulawesi Barat, jenis PJU, UPT Serai, Sulawesi Utara, jenis SHS 200.

Selain itu, PLTMH juga telah dibangun di kawasan transmigrasi Owata dan Sumalata, Gorontalo, Manilili, Sulawesi Selatan dan Tambua, Sulawesi Tenggara. Sementara lokasi transmigrasi di Nusa Tenggara Barat (NTB) juga telah dibangun pembangkit tenaga angin (PLTAngin) di Oi Toi dan Piong.

“Kesadaran ikut menyelamatkan lingkungan dan program pembangunan dan pengembangan energi baru dan terbarukan di kawasan transmigrasi tersebut, Ditjen P2MKT, Depnakertrans akan bekerja sama dengan Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi, Departemen ESDM, yang rencananya akan dilakukan akhir bulan Juni 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: